jump to navigation

ANALISIS KELAYAKAN INDUSTRI MAKANAN DI SAREE, ACEH BESAR January 23, 2011

Posted by alreadyshare in Economics, Uncategorized.
Tags: , , , , , ,
trackback

BAB I

PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG INDUSTRI

Berbagai cara dilakukan oleh masyarakat untuk mendapatkan pendapatan, salah satunya yaitu melalui bidang industri rumah tangga (home industri ). Home industri sangat berkembang di wilayah  Aceh. Dalam tulisan ini saya akan membahas analisis kelayakan industri secara deskriptif di wilayah saree- Aceh besar. Wilayah yang memiliki penduduk yang berkisar 3000 jiwa ini sebagian besar bergerak dalam bidang Home Industri dan sebagian besar lainnya bergerak dalam bidang peternakan. Home industri yang digeluti bergerak dalam bidang indutri makanan, yang berupa Keripik Ubi, keripik ubi jalar, jagung rebus, pop corn, dan lain-lain. Jadi bisa dikatakan industri yang sejenis ini merupakan hal yang lumrah dikawasan saree ini. Mayarakat memilih produk ini untuk diolah karena sebagian besar tanah pertanian mayarakat ditanami Ubi, Ubi jalar, Jagung, sayur-sayuran dan buah-buahan.  Sehingga bisa dikatakan  hasil pertanian langsung menjadi bahan baku dari home industri makanan ringan ini.

Makanan yang paling diminati dan yang paling banyak dihasilkan oleh industri berupa Keripik Ubi dan Tape Ubi. Sehingga  masyarakat penggeliat usaha ini mengkonsentrasikan usahanya pada Produks Keripik Ubi dan Tape Ubi. Baru selanjutnya memproduksi keripik Ubi jalar dan Popcorn.

Home industri makanan ringan di saree ini telah digeluti bertahun-tahun bahkan ada yang merupakan usaha turun temurun, dengan demikian pelaku usaha ini merupakan dari kalangan yang sudah berpengalaman, yaitu tenaga kerjanya umumnya dari keluarga pemilik usaha.

Industri makanan diwilayah saree ini dari hari ke hari semakin berkembang mulai dari produsenya,  pedagangnya, dan diferensiasi produknya, industri ini juga telah meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat di wilayah ini.

Salah satu produk makanan yang menarik yaitu produk makanan popcorn, yaitu makanan ringan yang diolah dari jagung dan biasanya digemari oleh anak- anak. Produk ini merupakan produk terbaru di wilayah saree ini dan mendapatkan respon positif dari masyarakat sehingga menjadi produk ini sangat laku di pasaran.

Home industri makanan ringan ini telah menjadi ciri khas dari daerah saree ini dan satu-satunya di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam yang mrnjadi mata pencaharian masyarakat yang memiliki dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.

B.  TUJUAN

Setiap industri pasti mempunyai peluang dan hambatan yang akan sedang dihadapi termasuk kelayakan usaha industri yang dilihat dari segi Produk, Lokasi, Proses Produksi, Tenaga Kerja, Bahan Baku danlain-lain. Oleh sebab itu tulisan ini membahas mengenai keadaan suatu usaha sejenis atau  industri. Sehingga diharapkan tulisan ini bisa memberikan gambaran secara ringakas mengenai kedaan suatu industri temasuk kelayakan industri itu sendiri. Dengan demikian pembaca bisa mengetahui segala potensi yang sudah atau bisa dikembangkan dan bisa mengatasi segala kelemahan yang  ada untuk perkembangan industri yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.  KONDISI GEOGRAFIS

Aceh adalah salah satu Provinsi Yang Terletak di Ujung paling barat wilayah indonesia.  Aceh terdiri dari 23 kabupaten/kota dan setiap kabupaten/kota memiliki potensi ekonomi yang cocok untuk dikembangkan. Salah satu potensi ekonomi yang ada yaitu kesuburan tanah yang cocok untuk lahan pertanian.

Salah satu kabupaten yang memiliki potensi yang dalam bidang pertanian dan menimbulkan adanya lokalisasi industri terutama bagi Home Industri (industri rumah tangga) yaitu di kabupaten aceh besar tepatnya di kawasan Saree, kecamatan Lembah selawah. Sehingga, karena kesuburan tanahnya dan faktor lain, kawasan ini memiliki lahan pertanian yang luas, didirikannya Sekolah Pertanian Negeri-SAREE (SPN-SAREE), dan terdapat juga Pusat Latihan Gajah (PLG).

Saree berada pada sebuah kawasan yang tinggi , sehingga memiliki udara yang sejuk dan menjadi tempat-tempat peristirahatann (rest-area) bagi kendaraan yang lewat. Kawasan ini berjarak sekitar 70 Km dari kota Banda Aceh dan berjarak 42 km dari kota Sigli.

Di kawasan yang memiliki kesuburan tanah yang baik bagi pertanian ini banyak ditanami tanaman Ubi, jagung, Ubi jalar, buah-buahan dan sayur-sayuran. Kawasan saree ini merupakan  bagian dari pegunungan seulawah. Dimana kawasan ini sebagian wilayahnya adalah hutan.

Di daerah  menjadi tempat persinggahan penumpang bus atau minibus  yang bepergian dari wilayah Sigli atau ke wilayah banda aceh, sehingga wilayah ini banyak bermunculan  kios-kios dan tempat-tempat usaha mulai dari Restoran, Warung kopi, hingga yang paling mendominasi yaitu kios-kios yang yang menjual makanan yang bisa dijadikan oleh-oleh bagi masyarakat yang bepergian. Makanan tersebut antara lain : Keripik Ubi, Keripik Ubi Jalar, Tape Ubi,  jagung rebus hingga produk terbaru dan lebih modern yaitu Popcorn. Sehingga saree menjadi tumbuh kembang industri makanan. Hal inilah menjadi daya tarik masyarakat. Bahkan sebahagian pelaku industri di kawasan saree adalah transmigran dari luas Provinsi Aceh.

B.  LOKASI INDUSTRI

Sebagaimana dibahas sebelumya saree daerah yang terletak pada jalur lintasan Banda Aceh-Medan dan menjadi tempat persinggahan, sehingga menjadi lokasi yang sangat stategis bagi pasar industri makanan ini. Lokasi industri umunya tidak terlalu jauh dengan pasar, karena tempat produksi (pabrik) hanya berkisar antara 3 kecamatan yaitu kecamatan Suak Damai, Suka Mulia,

Lokasi pabrik biasanya umumnya pada rumah-rumah warga mayarakat sehingga tidak adanya lokasi pabrik khusus sebagai tempat pengolahan industri ini. Jika bahan baku mencukupi masyarakat mengandalkan produk pertanian (berupa Ubi, ubi  jalar, dan jagung) yang lokasinya dekat dengan industri sehingga secara ekonomi akan  mengurangi cost karena tanpa adanya beban angkut.

Lokasi tempat melakukan produksi tidak menimbulkan pencemaran karena ini merupakan industri rumah tangga yang berskala kecil.

Lokasi pemasaran produk yaitu disepanjang jalan Banda Aceh-Medan . hampir disepanjang 4 km jalan ini akan dijumpai kios-kios yang menjual produk-produk Home Industri Makanan. Selain di pasarkan di wilayah Saree,  produk juga dipasarkan keluar wilayah Saree, yaitu Banda Aceh dan Sigli.

C.  PROSES PRODUKSI

Proses produksi industri ini diawali oleh hasil pertanian masyarakat saree berupa Ubi, Ubi jalar, dan jagung. Hasil pertanian inlah yang menjadi bahan baku industri ini.

Bahan baku yang tersedia ini kemudian dikupas, dibersihkan dibentuk dan kemudian baru di masak menjadi produk siap makan.

Penggunaan tenaga kerja umumnya berjumlah dibawah 10 orang dan umumnya anggota keluarganya sendiri. Tenaga kerja inilah yang melakukan proses produksi mulai dari pengupasan sampai dengan pemasaran. Untuk produsen yang memiliki  modal besar sudah menerapkan Teknologi agar lebih cepat, misalnya  dalam pegupasan, pemotongan, dan proses pemberian kemasan.Tetapi bagi produsen yang modal  terbatas,  hanya bisa mengandalkan tenaga kerja.

Berdasarkan artikel dari majalah Aceh Magazine, salah satu tulisannya merupakan wawancara dari pelaku ekonomi diwilayah saree ini. Pelaku industri yang memiliki modal besar umumnya dalam satu hari bisa berproduksi keripik ubi sampai dengan 3000 bungkus denga keuntungan bersih sampai dengan Rp. 3.000.000 dan untuk kebutuhan minyak goreng dan minyak tanah dalam sehari diperlukan 30 kg minyak goreng dan 50 liter minyak tanah. Sedangkan untuk pengusaha atau pelaku industri dengan modal tidak terlalu besar umunya hanya berproduksi sekitar 700 bungkus. Proses produksi makanan ringan ini di kemas dalam plsatik bening dan untuk produk popcorn dikemas dalam kemasan yang lebih menarik sehingga terkesan lebih modern.

D.  PERSAINGAN ANTAR PRODUSEN

Setiap adanya industri pasti akan menimbulkan persaingan baik antar produsen maupun pedagang (pelaku industri). Dengan adanya persaingan ini menjadikan pelaku industri ini  lebih inovatif dan kreatif sehingga lebih berkembang dan bisa meningkatkan keuntungan.

Dalam kasus industri makanan di wilayah saree ini, produsen tidak bisa bermain-main dengan harga, karena harga telah ditetapkan bersama, maka itu jika ada produsen yang menaikkan harga produknya  tidak ada pedagang yang mau menampung. Oleh sebab itu, jika cost production meningkat umumnya produsen hanya mengurangi isi produknya. Persaingan lainnya yaitu dalam hal cita rasa. Misalkan keripik yang memiliki cita rasa yang cocok dengan keinginan masyarakat akan lebih diminati dan nama usaha mereka akan semakin dikenal sehingga menaikkan omset dan pendapatan mereka.

Persaingan juga terjadi dalam tampilam kemasan. Kemasan juga menjadi faktor penarik konsumen, kemasan yang bersih, menarik, dan memiliki nomor izin produk dan izin dari departemen kesehatan menjadi produk yang lebih dipercayai konsumen yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan.

Persaingan juga dilakukan dengan berproduksi lebih banyak sehingga produk bisa dipasarkan keluar wilayah saree yaitu banda aceh dan Sigli tetapi hanya dilakukan olh produsesn yang memiliki modal cukup.

E.  HAMBATAN INDUSTRI

Home Industri ini tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat dan khususnya produsen, karena mereka banyak menjumpai hambatan-hambatan. Salah satu hambatan yang paling berpengaruh terhadap produksi industri makanan ini adalah mengenai kekurangan modal khususnya bagi mereka yang baru memulai usaha ini. Pelaku industri ini umumnya memerlukan tambahan modal yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja serta kualitas dan kuantitas produksi yang akan dihasilkan. Kekurangan modal menjadikan pelaku industri tidak bisa menambah Output yan lebih banyak sehingga merekan tidak bisa memperoleh keuntungan mereka lebih banyak.

Salah satu dampak dari kekurangan modal ini adalah mereka tidak bisa mengembangkan dan memperluas jangkauan usaha mereka, misalnya mereka tidak bisa memperluas pemasaran produk mereka. Bila modal mencukupi mereka bisa saja memproduksi lebih banyak dan bisa di pasarkan diluar wilayah saree. Bisa dikatakan modal merupakan hal pokok bagi mereka dalam memperoleh kentungan lebih besar. Tidak hanya pelaku industri yang berskala kecil saja yang perlu tambahan modal. Tetapi, pelaku industri yang sudah lumayan berkembang juga perlu tambahan modal sehingga usaha mereka yang sudah maju bisa menjadi  lebih maju.

Tambahan modal biasanya diperlukan untuk membeli peralatan yang memiliki teknologi, misalnya mesin pemotong atau mesin perekat kemasan. Tambahan peralatan ini menjadikan usaha lebih efisien dan efektif dari segi waktu, kualitas maupun kuantitas produksi.

Hambatan lain yang sangat berpengaruh bagi industri ini adalah kurangnya bahan baku. Walaupun seperti yang sudah penulis katakan diawal bahwa hasil pertanian masyarakas saree langsung menjadi bahan baku bagi industri ini. Tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Kadang kala mereka tidak mendapat pasokan bahan baku diakibatkan hasil pertanian belum pada masa panen, sehingga mau tidak mau mereka harus memesan bahan baku dari luar saree yaitu dari sumatra utara. Berdasakan prinsip efisiensi, ini sangat tidak efisien karena biaya input akan naik karena bahan baku lebih mahal dikarenakan telah termasuk beban angkut.

 

 

F.  EKSTERNAL ECONOMICS

Eksternal Economics merupakan suatu dampak positif yang diperoleh suatu industri atau usaha ekonomi yang diakibatkan karena adanya pertumbuhan industri lainnya. Dampak positif ini memberikan tambahan keuntungan bagi suatu perusahaan karena produk atau jasa mereka diperlurkan ole perusahaan lain, produk atau jasa ini misalnya hasil dari usaha menjadi bahan baku untuk usaha berikutnya.

Salah satu eksternal economic ada yaitu bagi petani di sekitar kawasan saree ini. Dimana hasil pertanian mereka langsung laris dipasaran karena adanya industri makanan ini atau bisa dikatakan industri makanan ini sangat membutuhkan bahan baku berupa hasil pertanian, jika petani tidak bisa menghasilkan bahan baku bagi mereka maka industri makanan in terpaksa mengimpor bahan baku dari sumatra utara

Eksternal economic lainnya yaitu petambahan keuntungan yang didapat oleh penjual minyak goreng dan minyak tanah, karena sehari-harinya pelaku industri pasti memerlukan input berupa minyak goreng dan minyak tanah untuk melakukan proses produksi. Dalam sehari penjual minyak goreng dan minyak tanah ini mampu menyediakan stok yang sangat diperlukan oleh industri. secara langsung keuntungan mereka pasti lebih banyak dibandingkan tidak ada industri makanan di wilayah saree ini.

Eksternal economis yang paling terasa di wilayah ini adalah penyerapan tenaga kerja. Hal ini bisa terlihat karena terbukanya lapangan pekerjaan sehingga masyarakat banyak menggeluti baik sebagai pengusaha maupun sebagai tenaga kerja yang bekerja dibawah instruksi pemilik usaha. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat meningkat dan bisa memenuhi segala kebutuhannya sendiri maupun kebutuhan tanggungannya.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis mengenai kelayakan industri di walayah Saree-Aceh besar maka dapat dapat diambil beberapa kesimpulan. Industri diwilayah Saree merupakan lokasi yang tepat baik dilihat dari segi produksi maupun dari segi pemasaran karena lokasinya di daerah persinggahan masyakat dalam perjalanan dari wilayah Sigli dan Banda Aceh dan juga tidak menimbulkan pencemaran yang berarti. Dari segi bahan baku yang digunakan, industri ini memanfaatkan hasil pertanian sekitar dan ini juga memberi keuntungan bagi petani setempat. Keuntungan industri juga termasuk dalam hal yang berpotensi karena umumnya produk ini sangat laku di pasaran sehingga memberi keuntungan yang lumayan bagi pelaku industri.

Persaingan antar produsen juga terjadi dalam mencapai keuntungan, yaitu melalui diferensiasi Produk, harga, dan pemasaran produk. Selain itu juga industri ini memiliki beberapa hambatan antara lain kadang kala terjadi hambatan dalam pemasokan bahan baku dan hambatan dalam modal karena modal merupakan salah satu syarat industri ini agar bisa berkembang lebih baik.

Perkembangan industri di wilayah saree ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang ingin berusaha untuk menjadi lebih baik. Industri ini juga memberi keuntungan bagi pelaku ekonomi lainnya antara lain pedagang minyak tanah dan minyak goreng dimana produk mereka menjadi input bagi industri ini. Sehingga industri di wilayah Saree ini merupakan industri yang sangat layak sebagai suatu industri dan sangat layak untuk di kembangkan segala potensi yang ada.

B.  SARAN

Beberapa langkah dapat ditempuh bagi pelaku industri, Pemerintah, maupun masyarakat sekitar agar industri ini bisa lebih berkembang. Dalam hal kekurangan bahan baku, hendaknya petani di kawasan Saree ini bisa melakukan proses pertanian yang bisa mengasilkan produk pertanian atau masa panennya selalu bisa menjadi bahan baku bagi industri sehingga tidak ada hal yang menjadikan kekurangan bahan baku dikalangan pelaku industri sehingga mereka harus mengimpor dari Sumatra Utara.

Peran pemerintah juga sangat diperlukan dalam pemberian modal bagi pelaku Industri di wilayah ini  sehingga mereka bisa mengembangkan industri ke arah yang lebih baik. Dengan adanya modal dari pemerintah ini pelaku indutri bisa menerapkan teknologi dengan tidak mengabaikan tenaga kerja sehingga kehadiran teknologi tidak meninmbulkan pengannguran. Produksi yang meningkat sebaiknya bisa dilakukan perluasan pemasaran sehingga produk lebih laku dan dikenal sehingga  bisa meningkatkan keuntungan industri  ini.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: